Ini Gagasan OJK Sesudah Kredit Macet Paylater Dekati 8 %

Ini Gagasan OJK Sesudah Kredit Macet Paylater Dekati 8 %

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampaikan rerata rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) di industri bayar menunda alias paylater dekati angka 8 %, persisnya di tingkat 7,61 % per September 2022.

Kepala Departemen Pemantauan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W. Budiawan menjelaskan jika rasio itu mendapatkan perhatian khusus dari regulator.

“Selama ini NPL secara industri BNPL [buy now pay later] dekati angka 8 % itu sudah mendapatkan perhatian khusus oleh OJK,” kata Bambang ke Usaha.

Dalam pada itu, bila dibanding dengan industri, rasio NPF gross paylater ada di status 2,58 % per September 2022, turun dibanding Desember 2021 yang capai 3,53 %.

Bambang menjelaskan bukan hanya masalah kredit risk exposures. Tetapi, usaha paylater jumlah konsumen setia yang paling berarti. Maka dari itu, kata Bambang, selainnya performa mitigasi resiko kredit, OJK concerns dengan bagaimana beberapa pemain BNPL tangani aduan-pengaduan customer secara cepat dan efisien.

Selain itu, Bambang mengutamakan jika industri buy now pay later harus juga mempunyai mekanisme dan sistem aduan nasabah yang terbukti.

“Jika belum, OJK tidak ragu untuk memberi ancaman dan pembimbingan, hingga perubahan usaha paylater masih tetap tumbuh positif karena rekam jejak pemain-pemainnya responsive pada keluh kesah/aduan nasabah,” katanya.

Adapun, sampai sekarang ini ada enam multifinance yang core business-nya Buy Now Pay Later seperti Commerce, Akulaku, Catur Nusa, Home Kredit, FinAccel, dan Atome.

Di tengah-tengah peningkatan rasio kredit macet di industri ini, Bambang memandang usaha BNPL tidak membutuhkan peraturan khusus. Meskipun begitu, dalam soal pemberian kesepakatan business line BNPL harus tetap diisyaratkan lebih prudent, khususnya pada beberapa tahap pre-screening dan pemerolehan peminjam diantaranya early fraud detection, opsi fragmen konsumen, dan kredit risk profil.

See also  Perkembangan Penyaluran BSU 71,64 %, Menaker Mengharap Akhir Oktober Usai

“Harus dikenang jika entry awalnya ketepatan beberapa data calon nasabah ini kurang pas, karena itu konsumen profil-nya bisa saja salah. Secara singkat, kita mengenal dengan istilah garbage in – garbage out,” tutupnya.

 

Check Also

Kepopuleran Prabowo Subianto Turun, Ini Keterangan Gerindra

Kepopuleran Prabowo Subianto Turun, Ini Keterangan Gerindra Beberapa instansi survei nasional mengatakan kepopuleran capres (calon …