Disuruh Tanggung Jawab Masalah Gagal Ginjal Akut pada Anak, Ini Jawaban Kepala BPOM

Disuruh Tanggung Jawab Masalah Gagal Ginjal Akut pada Anak, Ini Jawaban Kepala BPOM

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito menampik bertanggungjawab atas peredaran obat sirup yang diperhitungkan jadi pemicu kasus gagal ginjal akut pada anak. Ia mengatakan BPOM sudah bekerja sesuai proses.

Penny mengatakan jika pihak yang menekan BPOM bertanggungjawab tidak pahami masalah proses dalam pemantauan produk beberapa obat.

“Mereka tidak pahami proses lajur masuknya, bahan baku, pembikinan di mana, peran-peran siapa,” kata Penny dalam pertemuan jurnalis.

Tekanan supaya BPOM dan Kementerian Kesehatan bertanggungjawab

Awalnya beberapa pihak menekan BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk bertanggungjawab atas tersebarnya obat sirup yang diperhitungkan mengakibatkan kasus gagal ginjal akut pada anak. Ketua Komune Customer Indonesia David Tobing misalkan, memandang ke-2 lembaga itu lupa karena obat yang mempunyai bahan berhaya Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG) dan Etilen Glikol Butil Eter (EGBE) dapat tersebar dan dimakan oleh warga.

David memandang BPOM gagal lakukan pemantauan pre-market dan post-market atau sebelum dan setelah beberapa obat itu ada di pasar. Walau sebenarnya, dalam Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 huruf d Ketentuan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 mengenai Badan Pengawas Obat dan Makanan sangat terang ditata jika BPOM bertanggungjawab mengadakan pekerjaan pemerintah di bidang pemantauan obat dan makanan, dan mengadakan peranan penerapan pemantauan saat sebelum tersebar dan pemantauan sepanjang tersebar.

BPOM telah bekerja sesuai dengan standard Farmakope

Penny menerangkan jika pihaknya sejauh ini telah melakukan pekerjaan sesuai tutorial standard obat Farmakope yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Karenanya, BPOM tidak mempunyai kewajiban memantau produk jadi beberapa obat. Karena itu, supaya pemantauan lebih bagus, BPOM minta Kementerian Kesehatan mengoreksi Farmakope.

See also  Berjumpa Lemhannas, Bamsoet Ulas Persiapan RI Temui Krisis Global

“Maka tidak boleh meminta tanggung-jawab ke Badan POM karena Badan POM telah lakukan pekerjaan sebagus-baiknya,” kata Penny.

5 obat sirup yang disebutkan mempunyai kandungan beresiko

BPOM awalnya telah melaunching daftar lima obat sirup yang memiliki kandungan EG, DEG dan EGBE melewati tingkat batasan aman. Ke-5 obat itu ialah Termorex Syrup yang dibuat PT Konimex, dan obat batuk dan flu merk Flurin DMP Syrup yang dibuat PT Yarindo Farmatama. Dan tiga obat yang lain dibuat Universal Pharmaceutical Industries, yakni obat batuk dan flu merk Unibebi Cough Syrup, obat demam merk Unibebi Demam Syrup, dan obat demam merk Unibebi Demam Drops.

PT Konimex sudah menentang penemuan BPOM itu. Badan Pengawas selanjutnya mengecek ulangi contoh produk Konimex pada batch berlainan. Hasilnya, BPOM mengatakan cuma menarik peredaran produk Konimex pada batch yang awalnya ditelaah dan mengatakan produk pada batch yang lain aman.

Masalah kandungan beresiko dalam obat sirup yang tersebar, Penny menerangkan ada peralihan formasi yang sudah dilakukan oleh produsen. Peralihan formasi itu, menurutnya, tidak disampaikan ke BPOM.

Permasalahannya, bahan baku baru yang dipakai oleh sang produsen obat tidak mempunyai sertifikasi farmasi. Penny bahkan juga memperkirakan produsen obat sudah lakukan ini semenjak awalnya wabah Covid-19.

“Semenjak wabah ini mereka mengganti penyuplai mereka jadi penyuplai bahan kimia. Hingga bahan baku produk mereka banyak yang bukan berstandar sertifikasi farmasi,” katanya.

Masalah sangkaan ada tindak pidana dalam kasus ini, Penny memberikannya ke aparatur kepolisian.

Polisi masih menyelidik sangkaan ada tindak pidana

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Dedi Prasetyo, mengatakan jika tim penyidik sekarang ini masih menyelidik sangkaan ada tindak pidana dalam kasus ini. Menurutnya, tim masih kumpulkan dan menganalisis bukti-bukti yang didapat.

See also  Anak Telanjur Minum Obat Sirup yang Dilarang, RSCM Minta Kerjakan Ini

Bila diketemukan ada tanda-tanda tindak pidana, tim nanti akan tingkatkan kasus ini dari penyidikan ke penyelidikan.

“Bila cukup, akan dinaikkan dari lidik ke sidik,” kata Dedi.

Sementara Kementerian Kesehatan mengatakan jumlah kasus gagal ginjal akut pada anak semakin. menurutnya, ada 269 pasien dengan 58 % atau 157 antara wafat. Sekitar 24 % atau 73 anak masih jalani perawatan, dan 39 % atau 14 anak dipastikan pulih.

 

Check Also

Kepopuleran Prabowo Subianto Turun, Ini Keterangan Gerindra

Kepopuleran Prabowo Subianto Turun, Ini Keterangan Gerindra Beberapa instansi survei nasional mengatakan kepopuleran capres (calon …